Connect with us

SULTENG

Mengenal Investor di Balik PT IGIP Morowali

Published

on

Suaranegeri.info – Siapa sebenarnya yang berdiri di balik PT International Green Industrial Park (IGIP) di Morowali, Sulawesi Tengah? Di tengah rencana aksi demonstrasi berkepanjangan yang akan digelar warga mulai Jumat (22/5/2026) serta peringatan potensi bencana ekologis dari WALHI Sulawesi Tengah, publik mulai menyorot sosok investor di balik proyek ambisius berlabel “industri hijau” tersebut.

Berdasarkan penelusuran media, PT IGIP bukanlah proyek biasa. Kawasan yang terletak di Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali ini digadang-gadang sebagai kawasan industri hijau pertama di Indonesia yang fokus pada daur ulang baterai dan nikel nol emisi. Namun, di balik klaim ramah lingkungan itu, sejumlah persoalan justru muncul ke permukaan: banjir bandang, konflik lahan, hingga polemik jalur hauling yang membahayakan masyarakat.


Raksasa Daur Ulang China GEM Co. Ltd.

Investor utama di balik PT IGIP adalah GEM Co. Ltd. , perusahaan daur ulang elektronik raksasa asal China. Perusahaan ini bukan pemain baru di industri nikel global. GEM dikenal sebagai salah satu perusahaan yang mendaur ulang lebih dari 30 jenis sumber daya langka seperti kobalt, nikel, litium, tembaga, emas, perak, hingga elemen tanah jarang. Bahkan, GEM memproses lebih dari 10 persen dari total limbah baterai dan limbah elektronik di dunia.

Nilai investasi yang digelontorkan untuk proyek IGIP di Morowali sangat fantastis. Pembangunan tahap awal diperkirakan mencapai US$ 2 miliar (sekitar Rp32,52 triliun), dengan total estimasi investasi hingga US$ 8 miliar (sekitar Rp129,74 triliun).

Pendiri GEM, Xu Kaihua, menegaskan bahwa perusahaan tidak membangun IGIP untuk sekadar menambang nikel, melainkan untuk menciptakan ekosistem daur ulang baterai yang nol emisi.

“Saat sejumlah pemain nikel membangun industri baterai untuk kendaraan listrik, perusahaannya fokus membangun IGIP yang mengarah pada daur ulang baterai yang nol emisi,” ujar Xu Kaihua usai kunjungannya di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Konsorsium Raksasa Global

Meski GEM menjadi investor utama dan motor penggerak, PT IGIP tidak berdiri sendiri. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara sejumlah raksasa industri global. Sebelum membangun IGIP, GEM telah menandatangani perjanjian kemitraan dengan PT Vale Indonesia (INCO) pada November 2024 senilai US$1,4 miliar. Kemitraan ini bertujuan menciptakan pabrik pengolahan nikel tanpa emisi yang mampu memproduksi 60.000 ton nikel per tahun.

Selain itu, GEM juga tergabung dalam konsorsium raksasa melalui anak perusahaannya, PT QMB New Energy Material, yang merupakan perusahaan patungan antara:

  • GEM Co. Ltd. (China)
  • Tsingshan Holding Group (China)
  • Brunp — anggota Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) , raksasa baterai global asal China
  • Ecopro BM (Korea Selatan)
  • Hanwa Co. Ltd. (Jepang)

Dengan struktur kepemilikan yang demikian, PT IGIP bukan sekadar proyek lokal biasa, melainkan bagian dari jaringan rantai pasok nikel global yang terhubung dengan industri baterai mobil listrik dunia. Bahkan, GEM berharap seluruh limbah baterai dari seluruh dunia suatu hari nanti bisa dikirim ke fasilitasnya di Morowali untuk didaur ulang.

Lokasi Eks PT ATI yang Ditransformasi

Kawasan yang kini dikembangkan PT IGIP sebelumnya merupakan milik PT Anugrah Tambang Industri (PT ATI) , sebuah perusahaan pertambangan yang didirikan pada 2017 dan berfokus pada eksplorasi, produksi, serta penjualan nikel, batu bara, dan bauksit. Setelah ditransformasi, kawasan seluas lebih dari 1.120 hektare ini diklaim akan menjadi pusat industri ramah lingkungan yang memadukan inovasi, energi terbarukan, dan tanggung jawab sosial.

Insentif Besar dari Pemerintah Indonesia

Untuk menarik investasi sebesar itu, pemerintah Indonesia memberikan sejumlah insentif istimewa. Anak perusahaan GEM, PT QMB New Energy Material, dilaporkan menikmati fasilitas tax holiday berupa pembebasan pajak penghasilan (PPh) Badan selama 10 tahun, ditambah pengurangan PPh sebesar 50 persen selama dua tahun berikutnya.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menegaskan bahwa pemberian insentif tersebut merupakan strategi untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam menarik investasi asing.

Polemik di Balik Label “Industri Hijau”

Label “industri hijau” yang disematkan pada PT IGIP justru kontras dengan fakta di lapangan. Sejumlah persoalan lingkungan dan sosial justru muncul dari kehadiran perusahaan ini.

Banjir Bandang (8 Mei 2026): Hujan deras mengguyur wilayah sekitar pukul 01.00 WITA dini hari, menyebabkan air sungai di kawasan industri PT IGIP meluap. Sedikitnya 13 rumah warga dan 4 unit kos terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 80 sentimeter. Warga setempat mengaku panik karena air tiba-tiba masuk ke rumah mereka.

Peringatan WALHI: Menanggapi peristiwa tersebut, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Tengah menyatakan bahwa banjir itu “bukan sekadar kecelakaan teknis biasa, melainkan peringatan serius terhadap potensi bencana ekologis yang dapat berlangsung secara berkelanjutan” . WALHI mengingatkan bahwa perubahan tata guna lahan akibat aktivitas industri telah mengurangi fungsi daerah resapan air.

Dugaan Pengrusakan dan Pengancaman: Humas PT IGIP dilaporkan ke Polres Morowali atas dugaan tindak pidana pengancaman dan pengrusakan. Pelapor mengaku mobilnya dipukul dan diancam akan dihancurkan.

Polemik Jalan Hauling (Februari 2026): Masyarakat Desa Werea dan Desa Sambalagi mengeluhkan aktivitas hauling PT IGIP yang menggunakan jalan provinsi yang digabung dengan jalur masyarakat. Akibatnya, jalan berdebu parah, tidak ada rambu lalu lintas, dan keselamatan warga terancam. Komnas HAM Sulawesi Tengah pun mendesak evaluasi total terhadap jalur hauling tersebut.


Daftar Investor di Balik PT IGIP

InvestorAsal NegaraPeran/Keterlibatan
GEM Co. Ltd.ChinaInvestor utama, pengembang kawasan IGIP
Tsingshan Holding GroupChinaPemilik saham melalui PT QMB
Brunp (anggota CATL)ChinaMitra patungan di PT QMB
Ecopro BMKorea SelatanMitra patungan di PT QMB
Hanwa Co. Ltd.JepangMitra patungan di PT QMB
PT Vale Indonesia (INCO)Indonesia/InternasionalMitra kemitraan strategis senilai US$1,4 miliar
Xu KaihuaChinaPendiri GEM, inisiator utama proyek

Penutup

PT Internasional Green Industrial Park (IGIP) adalah simbol ambisi Indonesia dan investor asing dalam membangun ekosistem industri nikel yang berkelanjutan. Dengan nilai investasi mencapai Rp129 triliun dan melibatkan raksasa global seperti GEM, Tsingshan, CATL, hingga PT Vale, proyek ini memiliki potensi ekonomi yang luar biasa.

Namun, klaim sebagai “kawasan industri hijau” dan “nol emisi” akan terus diuji di lapangan. Banjir bandang yang merendam pemukiman warga, polemik jalan hauling yang membahayakan keselamatan publik, serta aksi demonstrasi berkepanjangan dari masyarakat terdampak menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara visi besar para investor dan realitas yang dialami warga Desa Sambalagi dan Werea.

Kini publik menunggu langkah nyata dari PT IGIP dan para investor di baliknya. Akankah ambisi industri hijau ini berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan dan hak-hak masyarakat? Atau justru menjadi babak baru dari eksploitasi sumber daya alam yang mengabaikan kearifan lokal?