Connect with us

Perubahan Iklim

Sejarah Hari Bumi 1970: Dari Aksi 20 Juta Orang di AS Hingga Gerakan Global di Indonesia

Published

on

Suaranegeri.info -Ketika membuka media sosial setiap tanggal 22 April, linimasa kita pasti dipenuhi dengan ilustrasi bola dunia, ajakan menanam pohon, dan tagar #HariBumi atau #EarthDay. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya, kapan sebenarnya semua ini dimulai?

Jawabannya ada pada tahun 1970. Tepat hari ini, puluhan tahun silam, sebuah peristiwa monumental yang mengubah cara pandang manusia terhadap planet ini terjadi untuk pertama kalinya.

Partisipasi: 20 Juta Orang Turun ke Jalan

Di Amerika Serikat, era 1960-an diwarnai oleh pertumbuhan industri yang pesat. Pabrik-pabrik mengeluarkan asap tebal, mobil-mobil boros bahan bakar memenuhi jalan raya, dan limbah kimia dibuang begitu saja ke sungai tanpa rasa bersalah. Belum ada regulasi yang kuat untuk melindungi udara atau air bersih.

Melihat kerusakan ini, seorang Senator AS asal Wisconsin bernama Gaylord Nelson memiliki ide gila: bagaimana jika kita membuat teach-in (diskusi massal) tentang lingkungan dalam skala nasional? Terinspirasi oleh gerakan anti-perang mahasiswa, Nelson ingin menyuntikkan energi anak muda ke dalam isu lingkungan.

Hasilnya sungguh di luar dugaan. Pada 22 April 1970, sekitar 20 juta orang Amerikaโ€”setara dengan 10% dari total populasi AS saat ituโ€”turun ke jalan, memadati taman kota, dan menggelar demonstrasi dari pantai timur hingga pantai barat.

Ini adalah aksi lingkungan terbesar dalam sejarah manusia pada masa itu.

Mereka bukan hanya mahasiswa aktivis. Para ibu rumah tangga, pekerja kantoran, petani, hingga ilmuwan bersatu. Mereka menuntut satu hal: Bumi yang lebih sehat dan masa depan yang lebih bersih.

Dampak Langsung

Apa yang terjadi setelah 20 juta orang bersuara di hari yang sama? Pemerintah AS tidak bisa tinggal diam.
Berkat tekanan luar biasa dari Earth Day pertama ini, di penghujung tahun 1970, Kongres AS membentuk Environmental Protection Agency (EPA) atau Badan Perlindungan Lingkungan.

Tak berhenti di situ, gerakan ini langsung melahirkan payung hukum legendaris yang hingga kini menjadi acuan dunia:

  • Clean Air Act (Undang-Undang Udara Bersih)
  • Clean Water Act (Undang-Undang Air Bersih)
  • Endangered Species Act (Undang-Undang Spesies Terancam Punah)

Dari sinilah lahirnya Earth Day modern yang kita kenal.

Dari Nasional ke Global: Earth Day di Indonesia

Awalnya hanya gerakan di Amerika, Earth Day kini telah menjadi momentum global yang dirayakan oleh lebih dari 1 miliar orang di 193 negara, termasuk Indonesia.

Di Tanah Air, peringatan Hari Bumi memiliki relevansi yang sangat kuat. Indonesia dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia dengan hutan hujan tropisnya, sekaligus negara kepulauan yang paling rentan terhadap krisis iklim dan sampah plastik.

Setiap tanggal 22 April, berbagai aksi nyata mewarnai kota-kota di Indonesia:

  • Aksi Bersih Sungai & Pantai: Komunitas di Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Bali turun membersihkan sampah yang mencemari aliran air.
  • Penanaman Pohon: Dari hutan Kalimantan hingga lahan kritis di Jawa, gerakan menanam kembali menjadi simbol harapan.
  • Edukasi Gaya Hidup Hijau: Kampanye mengurangi plastik sekali pakai dan bijak dalam menggunakan energi semakin gencar digaungkan oleh anak-anak muda Indonesia.

Pelajaran dari 1970 untuk 2026

Jika kita refleksikan, situasi tahun 1970 dan sekarang sebenarnya mirip. Bedanya, dulu polusi terlihat jelas dari cerobong asap hitam dan sungai berwarna pelangi karena limbah. Kini, ancamannya lebih senyap namun lebih masif: perubahan iklim global dan mikroplastik.

Kisah 20 juta orang yang turun ke jalan di tahun 1970 membuktikan satu hal: Suara kolektif rakyat biasa mampu memaksa sistem dan pemerintah untuk berubah.

Jadi, selamat memperingati Hari Bumi! Tidak perlu menunggu aksi besar seperti jutaan orang di AS dulu. Cukup mulai dari langkah kecilmu hari ini: kurangi sampah, hemat air, atau tanam satu bibit. Karena Bumi adalah satu-satunya rumah yang kita punya.