SULTENG
Nasib Petani Parimo-Banggai: 24 Ribu Hektare Sawah di Ambang Kekeringan Parah
Suaranegeri.info – Menghadapi ancaman musim kemarau yang diprediksi melanda pada tahun 2026, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan Horti) Provinsi Sulawesi Tengah mulai menjalankan serangkaian strategi mitigasi untuk melindungi sektor pertanian. Fokus utama diarahkan pada wilayah-wilayah sentra produksi pangan yang secara historis rentan mengalami defisit air.
Berdasarkan data yang dihimpun, instansi terkait telah memetakan total luas lahan baku sawah di wilayah Sulteng yang mencapai 126 ribu hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 24.903 hektare diidentifikasi berada dalam zona merah potensi kekeringan. Dua kabupaten yang menjadi perhatian serius adalah Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Banggai.
Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah, Agustin M. Tobondo, menyampaikan bahwa pihaknya tidak tinggal diam melihat proyeksi cuaca tersebut. Sejumlah intervensi teknis telah disiapkan guna meminimalisir gagal panen akibat kekurangan pasokan air.
“Kami sudah mengkalkulasi bahwa dari 126.000 hektare lahan baku sawah, potensi terdampak kekeringan ada di kisaran 24.903 hektare. Titik rawan ini mayoritas berada di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Banggai,” ujar Agustin kepada awak media di Palu, Senin (13/4/2026).
Strategi Penyesuaian Pola Tanam dan Dukungan Alsintan
Agustin menegaskan, salah satu jurus utama yang diterapkan adalah penyesuaian jadwal tanam. Petani diimbau untuk lebih disiplin mengikuti kalender tanam yang telah disesuaikan dengan prediksi klimatologi, sehingga fase generatif tanaman tidak bertepatan dengan puncak musim kering.
Tak hanya imbauan teknis, dukungan perangkat fisik juga diperkuat. Distan Horti Sulteng berkomitmen menyediakan sarana pendukung berupa alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya program pompanisasi atau sistem pemompaan air. Langkah ini dianggap krusial untuk menyelamatkan areal persawahan yang sumber air permukaannya mulai menipis.
“Kita lakukan penyesuaian masa tanam dan terus mendorong ketersediaan fasilitas seperti pompa air. Ini upaya konkret agar petani tidak hanya bergantung pada hujan,” tambahnya.
Perkuat Koordinasi dengan Penyuluh Lapangan
Untuk memastikan respons cepat terhadap dinamika yang terjadi di tingkat akar rumput, Distan Horti Sulteng menggencarkan komunikasi dengan seluruh petugas lapangan dan jaringan penyuluh pertanian yang tersebar di 13 kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah. Kolaborasi ini bertujuan agar setiap keluhan atau gejala awal kekeringan di sawah petani dapat segera ditangani sebelum meluas.
Agustin menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah provinsi dan aparat di daerah. Dengan jalur koordinasi yang terbuka lebar, diharapkan distribusi bantuan benih tahan kering atau mobilisasi pompa air dapat dilakukan secara lebih efisien dan tepat sasaran.
“Kami terus berkoordinasi dengan petugas di lapangan serta para penyuluh di seluruh wilayah. Respons cepat adalah kunci agar permasalahan kekeringan tidak berkembang menjadi krisis pangan,” pungkasnya.
Dengan langkah antisipatif ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berharap produktivitas pertanian di Parigi Moutong dan Banggai tetap terjaga, meskipun kondisi cuaca pada tahun 2026 mendatang diprediksi lebih kering dari biasanya.