Connect with us

Konservasi

Cegah Banjir Tambang Alaska Dwipa

Published

on

SuaraNegeri.info – Hasil terbaru di wilayah Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) PT Alaska Dwipa Perdana (ADP) di Desa Solonsa, Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mengungkap potensi risiko lingkungan yang perlu diantisipasi. Salah satu rekomendasi utama yang muncul adalah perlunya perusahaan tambang nikel laterit ini mencegah luapan banjir ke pemukiman warga sekitar.

Tim kajian independen yang meninjau langsung lokasi IUP OP seluas 480 Hektar (Ha) itu menemukan bahwa kondisi geomorfologi berupa satuan bukit membentang utara-selatan dengan kelandaian ke arah timur (7°–11°) berpotensi mengarahkan aliran permukaan (runoff) ke daerah lebih rendah, termasuk area pemukiman. Meskipun kelandaian ini ideal untuk pembentukan endapan nikel laterit, sistem pengelolaan air tambang yang kurang optimal dapat memicu banjir bandang saat hujan deras.

Saran Utama: Bangun Infrastruktur Pengendali Banjir

Berdasarkan dokumen ringkasan kunjungan lapangan yang diperoleh redaksi, terdapat beberapa saran strategis bagi manajemen PT ADP untuk mencegah luapan banjir ke permukiman masyarakat:

  1. Pembangunan Kolam Pengendap (Settling Pond) Berkapasitas Tambahan
    Lokasi tambang yang berada pada ketinggian 80–500 meter di atas permukaan laut memiliki potensi erosi dan sedimen tinggi. Disarankan agar PT ADP membangun kolam pengendap bertahap dengan sistem berjenjang, tidak hanya di area jetty dan stockpile (EFO seluas 3 Ha), tetapi juga di setiap blok penambangan aktif, termasuk area SPK seluas 10 Ha.
  2. Pengerukan Sedimen Secara Berkala
    Data analisis laboratorium menunjukkan kadar Fe tinggi (18–28%) dan SiO₂ (28–37%) pada lapisan saprolit. Material halus ini mudah terbawa air. Oleh karena itu, perusahaan perlu menjadwalkan pengerukan lumpur di saluran drainase dan sungai kecil yang melintasi Desa Solonsa minimal setiap tiga bulan.
  3. Reklamasi Segera pada Area yang Tidak Produktif
    Dari total area IUP, 85,75% berada di Area Penggunaan Lainnya (APL) dan 14,25% di Hutan Produksi Terbatas (HPT). Saran dari tim site visit adalah agar lahan yang sudah selesai ditambang segera direklamasi dengan tanaman vetiver dan pohon cepat tumbuh untuk meningkatkan infiltrasi air serta mengurangi kecepatan aliran permukaan.
  4. Pemasangan Peringatan Dini dan Tanggul di Sisi Pemukiman
    Mengingat jarak tambang ke pemukiman hanya sekitar 19 km dari Bandara Morowali, dan akses darat 27 menit, direkomendasikan pembangunan tanggul tanah di sisi timur IUP yang berbatasan langsung dengan lahan warga. Selain itu, perlu dipasang alat ukur ketinggian air (water level logger) di tiga titik strategis.

Potensi Bahaya dan Tanggung Jawab CSR

Dokumen tersebut juga mencatat bahwa PT ADP telah mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar IDR 5.000 per ton nikel untuk masyarakat terdampak. Namun, saran dari praktisi lingkungan menekankan bahwa alokasi dana tersebut sebaiknya sebagian digunakan untuk program mitigasi banjir, seperti normalisasi sungai dan sosialisasi evakuasi.

“Jika luapan banjir tidak dicegah, selain merusak permukiman, juga akan membawa lumpur laterit ke sawah dan sumur warga. Ini bisa memicu konflik sosial,” demikian dikutip dari salah satu catatan rekomendasi dalam ringkasan tersebut.

Status Legalitas dan Produksi

PT ADP memiliki izin yang sah melalui SK Bupati Morowali Nomor 540.2/SK.002/DESDM/X/2010, berlaku hingga 16 Oktober 2029, dan telah terdaftar sebagai IUP OP yang CnC (Clean and Clear). Perusahaan juga telah menjalin kerja sama dengan PT Sino Global Makmur (2019–2022) serta memiliki akses transhipment ke smelter PT SMI/IMIP Morowali sejauh 56,5 mil laut.

Dengan proyeksi produksi awal 50.000 WMT per bulan dan stripping ratio 2:1, tekanan terhadap lingkungan akan meningkat. Oleh karena itu, saran pencegahan banjir bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga bagian dari kepatuhan terhadap RKAB dan rekomendasi teknis dari Dinas ESDM setempat.

Kesimpulan

PT Alaska Dwipa Perdana dinilai memiliki potensi sumber daya nikel laterit yang besar, terutama dari blok yang ditawarkan dengan kadar Ni >1,8%. Namun, keberlanjutan operasi tambang sangat bergantung pada manajemen risiko banjir. Dengan menerapkan sistem drainase terpadu, kolam pengendap berkapasitas tambahan, dan reklamasi lahan secara ketat, diharapkan luapan banjir ke pemukiman masyarakat Desa Solonsa dan sekitarnya dapat dicegah.

Redaksi akan terus memantau implementasi saran-saran ini serta respons manajemen PT ADP.


Penulis: Tim Redaksi
Editor: Syaipul Amir.