SULTENG
Kumuh di Kaki Raksasa: Kisah Smelter Nikel dan Warga Morowali yang Terlupakan
Suaranegeri.info, Menyusuri jalan utama poros TransSulawesi beberapa menit dari Bandara Morowali, pemandangan yang menyapa bukanlah gerbang megah kawasan industri, melainkan kekumuhan. Bangunan darurat, kos-kosan seadanya, dan warung makan mendominasi kanan-kiri jalan, dikelilingi debu. Di baliknya, menjulang fasilitas industri nikel berteknologi modern: Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara dan pabrik pengolahan (smelter) milik PT Baoshuo Taman Industry Investment Group (BTIIG).
Inilah potret paradoks yang terjadi di jantung salah satu kawasan industri nikel terbesar di dunia. Di satu sisi, investasi raksasa ini disebut telah menciptakan lapangan kerja baru dan menggerakkan ekonomi lokal. Di sisi lain, masyarakat di tiga desa lingkarannya—Ambunu, Tondo, dan Topogaro—hidup dalam ancaman polusi udara, konflik lahan, dan dampak kesehatan yang serius.
Kontras: Lapangan Kerja vs. Kualitas Hidup
Berikut tabel yang merangkum dua sisi yang bertolak belakang dari kehadiran PT BTIIG di Morowali:
| Dampak Positif (Klaim Perusahaan/Pendukung) | Dampak Negatif (Keluhan Warga & Temuan LSM) |
|---|---|
| Penciptaan lapangan kerja bagi warga lokal yang sebelumnya menganggur. | Pencemaran udara serius dari asap smelter/PLTU dan debu batubara. |
| Memicu tumbuhnya usaha lokal (warung, kos-kosan) yang melayani pekerja. | Ancaman kesehatan, terutama ISPA, bagi warga di lingkar industri. |
| Kontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah. | Sengketa lahan dan penggusuran, termasuk yang dilakukan tanpa pemberitahuan. |
| – | Kriminalisasi dan gugatan hukum terhadap warga yang protes. |
| – | Kecelakaan kerja fatal, seperti insiden semburan debu panas nikel yang menewaskan seorang pekerja pada Agustus 2024. |
Pemerintah Daerah di Tengah Keterbatasan Wewenang
Persoalan kompleks ini terjadi di tengah keterbatasan wewenang pemerintah daerah. gubernur Sulawesi Tengah mengeluhkan sulitnya mengawasi dan mengelola aktivitas industri skala nasional ini. hanya bisa berjanji untuk mengalihkan fokus pembangunan ke sektor non-tambang atau menuntut bagi hasil pajak yang lebih besar dari pusat.
klimaks atau antiklimaks ?
Morowali menjadi miniatur ambisi hilirisasi nikel Indonesia. Di balik angka investasi triliunan rupiah dan lapangan kerja yang tercipta, tersimpan kisah pilu warga yang terjepit antara harapan ekonomi dan ancaman terhadap kesehatan serta lingkungan hidup mereka.
Kekumuhan di pinggir jalan poros Sulawesi itu bukan sekadar masalah tata kota, melainkan cerminan dari pembangunan yang kerap mengabaikan aspek keberlanjutan sosial dan ekologis. Jalan keluruhnya memerlukan bukan hanya penegakan hukum terhadap perusahaan, tetapi juga pola pembangunan industri yang lebih inklusif dan menghargai hak-hak dasar masyarakat setempat.