Connect with us

Konservasi

Proyek Rp 125 Triliun Gempur Sungai: Seberapa ‘Hijau’ Morowali ke Depan?

Published

on

Suaranegeri.info, Sulawesi Tengah – Sebuah rencana pengalihan alur dua sungai untuk membuka jalan bagi kawasan industri “hijau” senilai 8 miliar dolar AS (sekitar Rp 125 triliun) di Morowali memantik perdebatan serius. Pemerintah dan pengembang sama-sama mengusung jargon keberlanjutan, namun di balik meja rapat, sejumlah pertanyaan kritis mengemuka: seberapa “hijau” masa depan industri ini, dan apakah komitmen lingkungan dapat diwujudkan di tengah desakan investasi besar?

Rapat Strategis dan Proyek Ambisius

Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (CIKASDA) Provinsi Sulawesi Tengah baru-baru ini menggelar rapat teknis bersama PT Anugerah Tambang Industri (ATI), pengembang International Green Industrial Park (IGIP) di Desa Sambalagi, Morowali. Pertemuan yang dihadiri dinas-dinas kunci ini membahas permohonan persetujuan untuk mengalihkan alur Sungai Patu Marempeng dan Sungai Wereya.

Alasan yang diajukan PT ATI terkesan logis: alur sungai yang ada saat ini berada tepat di lokasi rencana pembangunan fasilitas smelter dan tailing. Pengalihan disebut sebagai keharusan untuk menjamin keselamatan operasional dan perlindungan lingkungan. Proyek IGIP sendiri digadang-gadang sebagai kawasan industri berteknologi tinggi dengan konsep green industry, menargetkan penyerapan hingga 80.000 tenaga kerja dan operasi penuh pada 2025-2028.

Tekanan dan Kekhawatiran yang Mengemuka

Meski pengembang menyatakan komitmen, pihak pemerintah daerah justru menyodorkan daftar panjang syarat dan kekhawatiran yang mengungkap keraguan mendalam.

1. Kekhawatiran Hidrologis dan Ancaman Bencana
Pejabat CIKASDA secara tegas menyoroti bahwa rencana penggabungan dua sungai berpotensi meningkatkan debit dan kecepatan aliran air. Mereka meminta agar perhitungan teknis tidak boleh menggunakan data hidrologi jangka pendek (10 tahunan), melainkan data jangka panjang yang lebih komprehensif. Imbauan ini bukan tanpa dasar. Studi akademis di Sulawesi, seperti analisis risiko banjir pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Bialo di Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa perubahan alur dan penggunaan lahan di hulu secara signifikan meningkatkan risiko banjir di daerah hilir. Pemerintah meminta proyeksi debit banjir dan desain bangunan pelengkap seperti tanggul yang memadai.

2. Kriteria “Hijau” Dipertanyakan
Istilah “Green Industrial Park” menjadi titik sorotan lain. Pemerintah menekankan bahwa konsep ini tidak boleh sekadar menjadi “jargon”. Implementasinya harus nyata, mencakup pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, perlindungan kawasan tangkapan air, serta pengendalian dampak lingkungan yang ketat. Kritik ini menyentuh inti problematis klaim “hijau” dalam industri ekstraktif.

3. Dampak Sosial yang Harus Diantisipasi
Masyarakat di hilir menjadi pihak yang paling rentan. Pemerintah meminta kajian dampak sosial yang komprehensif dari PT ATI, termasuk rencana mitigasi jika masyarakat sekitar mengalami kerugian. Ini adalah pengakuan tidak langsung bahwa proyek raksasa ini berpotensi mengganggu tatanan hidup warga.

Analisis terhadap Klaim “Hijau”

Untuk menganalisis janji proyek ini, kita dapat membandingkannya dengan tantangan yang diungkap dalam rapat dan konteks yang lebih luas:

Aspek ProyekJanji & Ambisi (Berdasarkan Paparan Perusahaan)Tantangan & Pertanyaan Kritis (Berdasarkan Arahan Pemerintah & Konteks)
Konsep LingkunganMengusung konsep “Green Industrial Park” dengan pendekatan ekologi dan pengelolaan berkelanjutan.Konsep dinilai berisiko menjadi sekadar jargon. Implementasi riil di lapangan, seperti perlindungan DAS, masih dipertanyakan.
Dampak HidrologiPengalihan sungai untuk keselamatan dan keberlanjutan operasional.Berpotensi meningkatkan debit/kecepatan aliran dan risiko banjir di hilir. Membutuhkan data jangka panjang dan desain yang sangat hati-hati.
Tata Kelola & PengawasanBerkomitmen mematuhi peraturan dan berkoordinasi dengan pemerintah.Proyek strategis di kawasan yang sama (seperti bandara IMIP) telah mendapat sorotan hukum, menunjukkan kuatnya tekanan untuk pengawasan ketat.
Keberlanjutan Jangka PanjangMenciptakan lapangan kerja dan investasi besar.Diperlukan sinergi kuat antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk memastikan keberlanjutan sejati, bukan hanya pertumbuhan ekonomi.

Mampukah “Keberlanjutan” dan “Industri” Berjalan Beriringan?

Pengalaman kompleks dari kawasan industri sejenis di Morowali, seperti PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), memberikan gambaran. Di satu sisi, IMIP menunjukkan inisiatif seperti menyusun Biodiversity Action Plan, penanaman mangrove, dan pengembangan energi surya. Di sisi lain, proyek infrastruktur pendukungnya, seperti pembangunan bandara, tetap menuai desakan investigasi hukum dari pihak seperti PDIP atas dugaan ketidakpatuhan. Kontras ini menggambarkan jalan panjang dan berliku yang dihadapi IGIP.

Sebuah Artikel opini menggarisbawahi bahwa membangun Eco Industrial Park yang sesungguhnya bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan paradigma. Tantangannya mulai dari investasi awal yang sangat besar, resistensi dari pola bisnis lama, hingga kesiapan regulasi dan SDM. Dalam konteks ini, rapat antara CIKASDA dan PT ATI bukanlah sekadar formalitas birokrasi, melainkan pertarungan awal antara narasi investasi besar dan prinsip-prinsip keberlanjutan yang sejati.

Rencana pengalihan sungai untuk IGIP di Morowali adalah microcosm dari dilema pembangunan Indonesia. Di satu sisi, ada janji transformasi ekonomi senilai triliunan rupiah dan puluhan ribu lapangan kerja. Di sisi lain, mengintai ancaman kerusakan ekologi permanen dan gangguan sosial jika prinsip kehati-hatian dikalahkan.

Komitmen PT ATI untuk menyesuaikan desain dan melengkapi kajian adalah langkah awal. Namun, kata kunci keberhasilan proyek ini terletak pada “konsistensi” – konsistensi dalam penerapan kajian ilmiah jangka panjang, konsistensi dalam pengawasan ketat oleh multi-pemangku kepentingan, dan konsistensi untuk mengutamakan keselamatan lingkungan dan masyarakat di atas segala target pembangunan.warga hilir Morowali, akan menjadi saksi apakah proyek raksasa ini akhirnya menjadi contoh industri hijau yang sejati atau sekadar pencitraan yang mahal.